Coba bayangkan seseorang di Toronto mengetik “sepatu lari terbaik untuk musim dingin” bukan ke kolom pencarian Google, melainkan ke ChatGPT atau Google AI Overviews. Jika jawabannya tidak menyebut JD Sports sama sekali, brand itu praktis tak pernah “ada” di mata calon pembeli tersebut — meski toko fisiknya berjarak sepuluh menit dari rumah. Skenario semacam inilah yang belakangan membuat peritel fashion dan olahraga asal Inggris tersebut merombak cara mereka membangun visibilitas online di Kanada.

Awal September 2026, JD Sports mengumumkan kemitraan dengan agensi Verde Digital untuk menggarap dua front sekaligus: pencarian tradisional berbasis Google, dan yang lebih baru, visibilitas di mesin-mesin jawaban berbasis kecerdasan buatan. Kerja sama ini menyasar praktik generative engine optimization (GEO) dan answer engine optimization (AEO), dua istilah yang setahun terakhir makin sering muncul di ruang rapat tim pemasaran digital ritel.

Dari 30 Toko Fisik ke Kolom Jawaban AI

JD Sports masuk ke pasar Kanada pada 2021 dengan toko pertamanya di Toronto, dan kini sudah mengoperasikan lebih dari 30 gerai di seluruh negeri. Masalahnya, kehadiran fisik yang solid itu belum tentu berbanding lurus dengan visibilitas digital, terutama saat makin banyak orang mulai perjalanan belanjanya dari percakapan dengan asisten AI, bukan dari mengetik kata kunci di kolom pencarian.

Ada persaingan luar biasa untuk demand pencarian di kategori sepatu di Kanada, dan kami berupaya menempatkan JD Sports sejajar dengan brand-brand yang sudah mapan.

Joe Hale, Pendiri Verde Digital

Sepatu Dulu, Apparel Menyusul

Target awal kemitraan ini cukup spesifik: kategori footwear, dengan fokus pada brand-brand berdemand tinggi seperti Nike, Jordan, dan Adidas. Baru setelah fondasi di kategori sepatu ini solid, strategi akan diperluas ke kategori apparel. Pendekatan bertahap ini masuk akal — sepatu adalah kategori dengan volume pencarian tertinggi sekaligus paling kompetitif, sehingga menjadi ukuran paling jelas apakah strategi GEO/AEO benar-benar berhasil mendongkrak visibilitas sebelum diterapkan lebih luas.

Ryan Clarke, Senior Growth and Measurement Manager di JD Sports, menyebut kemitraan ini sebagai langkah untuk mempercepat posisi mereka di ranah pencarian berbasis AI.

Kami senang bisa bermitra dengan Verde untuk mempercepat positioning pencarian AI kami lewat GEO dan AEO di sini, di Kanada.

Ryan Clarke, Senior Growth and Measurement Manager, JD Sports

Tiga Huruf yang Mengubah Cara Peritel Berpikir Soal Search

SEO sudah menjadi bahasa sehari-hari tim marketing selama dua dekade terakhir: pastikan halaman produk muncul di halaman pertama Google. Namun GEO dan AEO bermain di arena yang berbeda. GEO berfokus pada bagaimana konten sebuah brand dikutip, dirangkum, atau direkomendasikan oleh model AI generatif ketika pengguna mengajukan pertanyaan terbuka. AEO lebih spesifik lagi, menyasar bagaimana sebuah jawaban singkat dan otoritatif bisa “dipetik” oleh mesin jawaban seperti chatbot atau fitur ringkasan AI di mesin pencari.

Bedanya dengan SEO klasik: audiensnya bukan lagi manusia yang mengklik tautan biru, melainkan model bahasa yang memutuskan brand mana yang layak disebut dalam jawabannya. Itu berarti data produk, deskripsi kategori, dan konten editorial sebuah brand perlu ditulis dengan cara yang bisa “dipahami” dan dipercaya oleh sistem AI pihak ketiga — sebuah kategori investasi yang, dibanding pembenahan inventory atau kios interaktif di toko, masih jarang dibahas terbuka oleh peritel besar.

Kenapa Langkah Kecil Ini Layak Diperhatikan

Nilai kontrak kemitraan JD Sports dengan Verde Digital memang tidak sebesar investasi infrastruktur gudang atau sistem inventory berbasis AI yang sering jadi sorotan. Tapi justru di situlah menariknya: langkah ini menunjukkan bahwa optimasi untuk AI search sudah dianggap cukup serius untuk dikerjakan lewat kemitraan khusus, bukan sekadar tugas sampingan tim SEO yang sudah ada. Airetail.id, yang rutin memantau bagaimana kecerdasan buatan diadopsi di industri ritel, mencatat tren ini sebagai salah satu pergeseran investasi paling nyata dalam beberapa bulan terakhir: dari sekadar “hadir di toko” menjadi “dikenali oleh mesin AI”.

Tren ini juga sejalan dengan langkah-langkah lain JD Sports di pasar yang lebih besar. Di Amerika Serikat, brand ini bahkan sudah menguji kemampuan belanja langsung lewat platform AI seperti ChatGPT, Copilot, dan Gemini, memungkinkan konsumen menyelesaikan transaksi tanpa pernah membuka situs resmi JD Sports sama sekali. Kombinasi strategi di Kanada dan AS ini menggambarkan pola yang sama: peritel besar mulai memperlakukan asisten AI bukan sebagai saluran pelengkap, melainkan sebagai etalase baru yang setara pentingnya dengan situs e-commerce dan aplikasi mobile mereka sendiri.

PR yang Belum Selesai: Mengukur Apa yang Tak Terlihat

Satu tantangan besar yang menghadang strategi semacam ini adalah pengukuran. Klik dan ranking di Google relatif mudah dilacak lewat tool analitik standar, tapi seberapa sering sebuah brand disebut atau direkomendasikan oleh ChatGPT masih jauh dari standar yang mapan. Belum ada metrik universal yang disepakati industri untuk mengukur “pangsa suara” sebuah brand di jawaban-jawaban AI, sehingga peritel yang berinvestasi di GEO dan AEO sering kali harus membangun sendiri cara memverifikasi hasilnya sambil berjalan.

Ada juga pertanyaan soal keberlanjutan: algoritma di balik ChatGPT, Google AI Overviews, atau Copilot terus berubah, dan pola yang berhasil membuat sebuah brand muncul di jawaban AI hari ini belum tentu masih relevan enam bulan ke depan. Ini membuat GEO dan AEO lebih menyerupai eksperimen berkelanjutan ketimbang proyek yang bisa dianggap “selesai” begitu kemitraan berakhir.

Sinyal untuk Peritel Lain

Terlepas dari tantangan pengukurannya, langkah JD Sports di Kanada memberi sinyal yang cukup jelas bagi peritel lain, terutama yang masih memperlakukan strategi digital mereka sebagai urusan SEO semata. Jalur discovery pelanggan sudah bercabang: sebagian tetap mengetik kata kunci di kolom pencarian, tapi sebagian lain kini bertanya langsung kepada asisten AI dan mempercayai jawaban yang diberikan tanpa pernah membuka daftar hasil pencarian konvensional.

Bagi peritel yang belum mulai memikirkan bagaimana produk dan kontennya “terbaca” oleh model AI pihak ketiga, kasus JD Sports bisa jadi pengingat bahwa jendela untuk membangun posisi lebih awal di ranah ini masih terbuka — tapi kemungkinan besar tidak akan terbuka selamanya, mengingat makin banyak kompetitor yang mulai bergerak ke arah yang sama.

Leave a Comment